Chat disini



Senin, 14 Maret 2011

Tsunami Aceh & Miyagi, Serupa Tapi Tak Sama

 

Tsunami yang melanda Prefektur Miyagi dan sekitarnya di Jepang, pada 11 Maret 2011, mirip dengan tsunami yang menghentak Aceh pada 26 Desember 2004. Tsunami di kedua wilayah ini serupa tapi tidak sama.
"Hampir sama yang terjadi di Jepang dan yang di Aceh. Yang di Aceh sebelumnya ada gempa besar dengan kekuatan 9,3. Di Jepang juga sama, ada gempa besar dulu dengan kekuatan 9," tutur ahli gempa dari ITB, Dr Hamzah Latif, dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (14/3/2011).
Hamzah memperkirakan, ketinggian gelombang di Aceh mencapai 14-32 meter. Sedangkan tinggi gelombang tsunami di Prefektur Miyagi dan sekitarnya ditaksir 6-14 meter.
Gempa di Aceh dan Jepang ditengarai terjadi karena proses subduksi, yakni benturan antara lempeng benua dengan lempeng samudra. Subduksi ini kemudian memicu gempa berkekuatan besar atau megathrust.
"Tapi bedanya di Jepang jumlah korban tewas, meskipun terus didata, tidak sebanyak korban tewas di Aceh," imbuh Hamzah.
Setiap kali bencana, pasti tidak hanya mengakibatkan jatuhnya korban namun juga kerugian ekonomi. Tidak terkecuali Jepang yang merupakan salah satu negara maju di dunia, di mana berbagai infrastruktur modern banyak yang rusak.
"Di kita yang meninggal sekitar 128 ribu orang, sedangkan di Jepang sekitar 1.000 lebih. Ini karena early warning di Jepang yang sudah baik dan antisipasi yang bagus," sambung Hamzah.
Menurut dia, kebanyakan korban tsunami Jepang adalah karena terkena reruntuhan bangunan. Bila dilihat kerusakan akibat tsunami dibandingkan jumlah korbannya, maka jumlah korban relatif sedikit.
"Jepang memang merasa daerahnya sering gempa dan ada ancaman tsunami, maka mereka membuat early warning system yang baik. Mereka juga memasang ocean bottom seismograph," sambung Hamzah.
Pada 1980-an, Jepang membutuhkan waktu 19-20 menit untuk mengeluarkan peringatan tsunami. Namun sejak 2008, Negeri Matahari Terbit itu hanya membutuhkan waktu 2 menit untuk mengetahui ada tidaknya tsunami.
"Helikopter sudah berterbangan sebelum tsunami. Kemudian orang-orang sudah melakukan prosedur sesaat setelah gempa, yakni menyalakan televisi lalu menyimak peringatan tsunami," tambah alumnus Universitas Tohoku, Jepang, ini.
Di Jepang, ada semacam 'pintu-pintu' penghalang agar tsunami tidak gampang mencapai kawasan perumahan warga. 'Pintu' terluar adalah green belt, kemudian sungai sejajar pantai untuk mengontrol banjir dan tsunami, jalan dan lahan pertanian. Setelah itu, baru ada kawasan perumahan warga.
"Namun banyak daerah industri yang dekat dengan pantai. Airportnya juga hanya sekitar 2,5 km dari garis pantai.  Karena banyak pabrik dan industri di pesisir, maka itulah yang kena. Kita lihat di televisi mobil-mobil mengapung seperti mainan. Itulah pabrik mobil Honda Miyagi yang mengekspor produknya," jelas Hamzah.
Tsunami Aceh terjadi setelah sebelumnya gempa berkekuatan 9,3 SR menghentak. Gempa tersebut memiliki kedalaman 10 km. Dalam peristiwa itu, lebih dari 120.000 orang tewas dan lebih dari 90.000 orang hilang. Gempa ini berdampak luas hingga ke Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Srilangka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika.
Pada 11 Maret lalu, Jepang diguncang gempa berkekuatan 9 dengan kedalaman 15-24 km. Gempa tersebut memicu tsunami yang menghantam Sendai dan sekitarnya. Lebih dari 1.600 orang tewas dan ribuan orang hilang. Gempa Jepang juga berdampak luas hingga ke Indonesia, Taiwan, Rusia, Pulau Marcus, Guam, Filipina dan Amerika Serikat.

Minggu, 13 Maret 2011

Percayakah, Hitler Mati di Indonesia???



Diktator Jerman, Adolf Hitler diyakini tewas bunuh diri di sebuah bunker di Berlin pada 30 April 1945. Namun, fakta itu kini dipertanyakan. 

Seperti dikutip dari laman Daily Telegraph, Senin 28 September 2009, Program History Channel Documentary Amerika Serikat menyatakan tengkorak milik Hitler yang disimpan Rusia bukan milik pemimpin NAZI tersebut.

Itu adalah tengkorak perempuan berusia di bawah 40 tahun, bukan Hitler yang dinyatakan meninggal di usia 56 tahun.

Penemuan ini, menguatkan kembali teori konspirasi bahwa Hitler tidak mati pada 1945. Dia diduga melarikan diri dan mati di usia tua.

Sejumlah teori beredar soal dimana kematian Hitler. Ada yang mengatakan Hitler meninggal di Argentina, Brazil, Amerika Selatan, bahkan Indonesia. 
***
Jurnalis Argentina sekaligus pengarang buku 'Bariloche Nazi', Abel Basti meyakini Hitler tewas di Argentina pada 1960. 

Basti mengklaim Hitler melarikan diri dari Jerman menggunakan kapal selam. Bersama belahan jiwanya, Eva Braun, Hitler diyakini menghabiskan hari-hari terakhirnya di sebuah kota bernama Bariloche. Basti mendasarkan klaimnya atas keterangan beberapa saksi. 

Kemudian, seperti dikutip laman Salisburypost, 30 Agustus 1999, artikel surat kabar pada 17 Juli 1945, memberitakan Hitler dan Eva braun terlihat di Argentina. 

Seorang wartawan mengirim cerita dari Montevideo ke Chicago Times -- Hitler dan Braun melarikan diri ke Argentina dengan kapal selam. Keduanya hidup di kompleks orang-orang Jerman di Patagonia. 

Sementara, klaim bahwa Hitler meninggal di Brazil didasarkan pengakuan anggota NAZI bahwa Hitler meninggal pada 1980 di Brazil.

Brazil diketahui sebagai tempat pelarian para mantan pengikut Hitler. Sebuah makam NAZI bahkan ditemukan di pedalaman Hutan Amazon, lengkap dengan lambang NAZI di nisan yang berbentuk salib.

Sebuah artikel mengejutkan telah lama beredar di sejumlah mailing list dan laman jejaring sosial. Artikel itu berisi versi lain cerita kematian diktator Jerman, Adolf Hitler. Dikatakan Hitler meninggal di Indonesia. 

Cerita ini berawal dari sebuat artikel di
 Harian Pikiran Rakyat pada tahun 1983. Penulisnya bernama dr Sosrohusodo -- dokter lulusan Universitas Indonesia yang pernah bertugas di kapal yang dijadikan rumah sakit bernama 'Hope' di Sumbawa Besar.
Dia menceritakan pengalamannya bertemu dengan dokter tua asal Jerman bernama Poch di Pulau Sumbawa Besar tahun 1960. Poch adalah pimpinan sebuah rumah sakit terbesar di pulau tersebut. 

Klaim yang diajukan dr Sosrohusodo jadi polemik. Dia mengatakan dokter tua asal Jerman yang dia temui dan ajak bicara adalah Hitler di masa tuanya

Bukti-bukti yang diajukan Sosrohusodo, adalah bahwa dokter tersebut tak bisa berjalan normal --- Dia selalu menyeret kaki kirinya ketika berjalan.
 
Kemudian, tangannya, kata Sosrohusodo, tangan kiri dokter Jerman itu selalu bergetar. Dia juga punya kumis vertikal mirip Charlie Chaplin, dan kepalanya gundul.
 

Kondisi ini diyakini mirip dengan gambaran Hilter di masa tuanya -- yang ditemukan di sejumlah buku biografi sang Fuhrer. Saat bertemu dengannya di tahun 1960, orang yang diduga Hitler berusia 71 tahun.
 

Menurut Sosrohusodo, dokter asal Jerman yang dia temui sangat misterius. Dia tidak punya lisensi untuk jadi dokter, bahkan dia sama sekali tak punya keahlian tentang kesehatan.
 

Keyakinan Sosro, bahwa dia bertemu Hitler dan Eva Braun, membuatnya makin tertarik membaca buku dan artikel soal Hitler. Kata dia, setiap melihat foto Hitler di masa jayanya, dia makin yakin bahwa Poch, dokter tua asal Jerman yang dia temui adalah Hitler.
 

Keyakinannya bertambah saat seorang keponakannya, pada 1980, memberinya buku biografi Adolf Hitler karangan Heinz Linge yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Try Budi Satria.
 

Dalam halaman 59 artikel itu diceritakan kondisi fisik Hitler di masa tua. "Sejumlah orang Jerman tahu Hitler menyeret kakinya saat berjalan, penglihatannya makin kabur, rambutnya tak lagi tumbuh. Kala perang makin berkecamuk dan Jerman terus dipukul kalah, Hitler menderita kelainan syaraf."

Saat membaca buku tersebut, Sosro makin yakin, sebab kondisi fisik yang sama dia temukan pada diri Poch.

Dalam buku tersebut juga diceritakan tangan kiri Hitler selalu bergetar sejak pertempuran Stalingrad (1942 -1943) -- yang merupakan pukulan dahsyat bagi tentara Jerman.
 
Sosro mengaku masih ingat beberapa percakapannya dengan Poch yang diduga adalah Hitler. Poch selalu memuji-muji Hitler. Dia juga mengatakan tak ada pembunuhan di Auschwitz, kamp konsentrasi yang diyakini sebagai lokasi pembantaian orang-orang Yahudi.
 

"Saat saya bertanya soal kematian Hitler, dia mengatakan tak tahu. Sebab, saat itu situasi di Berlin dalam keadaan
 chaos. Semua orang berusaha menyelamatkan diri masing-masing," kata Sosrohusodo, seperti dimuat laman Militariana. 

Sosro mengaku pernah memeriksa tangan kiri Poch yang selalu bergetar. Saat menanyakan kapan gejala ini mulai terjadi, Poch lalu bertanya pada istrinya yang lalu menjawab, "ini terjadi ketika Jerman kalah di pertempuran dekat Moskow. Saat itu Goebbels mengatakan padamu bahwa kau memukuli meja berkali-kali."

Goebbels yang disebut istri Poch diduga adalah Joseph Goebbe, menteri propaganda Jerman yang dikenal loyal dengan Hilter. Kata Sosro, istri Poch, yang diduga Eva Braun, beberapa kali memanggil suaminya 'Dolf', yang diduga kependekan dari Adolf Hitler.
 

Usai membaca artikel-artikel tersebut, Sosro mengaku menghubungi Sumbawa Besar. Dari sana, dia memperoleh informasi dr Poch meninggal di Surabaya.

Poch meninggal pada 15 Januari 1970 pukul 19.30 di Rumah Sakit Karang Menjangan Surabaya karena serangan jantung, dalam usia 81 tahun. Dia dimakamkan sehari kemudian di daerah Ngagel.

Sementara istrinya yang asal Jerman pulang ke tanah airnya, Poch diketahui menikah lagi dengan wanita Sunda asal Bandung berinisial S. Dia diketahui tinggal di Babakan Ciamis. 
 

Setelah menutup mulut,  S akhirnya memberi semua dokumen milik suaminya pada Sosro. termasuk foto perkawinan, surat izin mengemudi lengkap dengan sidik jari Poch.
 

Ada juga buku catatatan berisi nama-nama orang Jerman yang tinggal di beberapa negara, seperti Argentina, Italia, Pakistan, Afrika Selatan, dan Tibet. Juga beberapa tulisan tangan steno dalan bahasa Jerman

Buku catatan Poch berisi dua kode, J.R. KepaD No.35637 dan 35638, kode simbol lelaki dan perempuan.
 

"Ada kemungkinan buku catatatan dimiliki dua orang, Hitler dan Eva Braun," kata Sosro.
 

Ada juga tulisan yang diduga rute pelarian Hitler -- yakni  B (Berlin), S (Salzburg), G (Graz), J (Jugoslavia), B (Belgrade), S (Sarajevo), R (Rome), sebelum dia ke Sumbawa Besar.

Istri kedua Poch, S juga menceritakan suatu hari dia melihat suaminya mencukur kumis dengan gaya mirip Hitler. Ketika dia bertanya, suaminya menjawab, "jangan bilang siapa-siapa."

Sosro mengaku tak ada maksud tersembunyi di balik pengakuannya. "Saya hanya ingin menunjukan Hitler meninggal di Indonesia," kata dia.
Hingga saat ini apakah Hitler tewas di bunker, di Argentina, Brazil, atau Indonesia, belum bisa dipastikan. Kisah akhir hayat 'sang Fuhrer' terus jadi misteri.



Cerita ini memang cerita lama. Namun, klaim Program History Channel Documentary Amerika Serikat yang menyatakan tengkorak yang disimpan Rusia bukan Hitler, tapi milik perempuan berusia di bawah 40 tahun, membuat kisah ini relevan untuk kembali diangkat.
 

Beberapa pembaca mengaku cerita ini masuk akal. Misalnya,
 Mas Emil. 
"Bukan tidak mungkin Hitler mati di Indonesia. Kan juga mungkin....karena Indonesia bisa aja dianggap aman. Lagian Indonesia waktu itu kan juga sekutu negara-negara Barat musuh Hitler. Kata pepatah, tempat sembunyi paling aman bagimu adalah tempat berbahaya bagimu, yakni markas musuh."

Hal senada disampaikan oleh pembaca berinisial
 'dendj Covanovski Orisanovic'. Menurut dia, harus ada kajian untuk membuktikan benar tidaknya kasus ini. 

"Ya, waktu kecil saya pernah membaca artikel tentang keberadaan Hitler di Indonesia, di Koran Buana Minggu (tahun 1989) lengkap dengan foto-fotonya. Dari Wajah dan postur tubuh sepertinya mirip. Ya check DNA-nya saja Forensik indonesia sudah mampu untuk hal itu," kata dia.

Pembaca bernama 'Sastra' menulis, "Itu bisa terjadi, di Perang dunia II Italia Jerman dan Jepang adalah koalisi terkuat yang memproklamirkan sebagai penyelamat dunia."

Sementara,
 'Ratna Indahyani' berpendapat kisah ini seharusnya menggelitik naluri menyelidik orang Indonesia.

"Sebuah wacana baru yang sangat baik, tidak penting penemuan ini mendapat pangakuan dari masyarakat Internasional atau tidak, tetapi usaha dan pencarian fakta kebenaran lah yang penting guna turut peran membuka pikiran masyarakat yang perduli terhadap sejarah."

Lalu, ada 'Naradia' yang mengatakan klaim bahwa tengkorak-- yang diklaim Hitler adalah perempuan bisa jadi pintu masuk penyidikan.
"Tulisan dari Sosrohusodo di Harian Pikiran Rakyat pada tahun 1983 itu memang sempat bikin heboh. Tapi argumentasinya runut dan deteil. Orang sudah melupakannya. Publik lebih percaya cerita Rusia dan sebagainya. Maka, kalau kalau baru2 ini diberitakan bahwa tengkorak yang ada di Moskow itu ternyata bukan Hitler tapi perempuan, maka diskusi soal Hitler ini menjadi menarik lagi untuk ahli sejarah dan ditunggu publik. Tapi basis tulisan dan diskusinya tetap harus literatur dan penelitian." 

Pembaca yang lain mengaku tak percaya. 
 "Perlu dibuktikan kebenarannya seorang Nazi sampai lari ke Indonesia, kayaknya tidak mungkinlah," kata 'Ririn Lesmana'.

Sementara,
'Sartono Sihombing' mempertanyakan mengapa informasi Hitler tewas di Indonesia tak jadi heboh di dunia internasional.  "Klu mati di Indonesia kok tidak jadi berita besar ya...............!heran saya."

Begitu juga dengan
 'diana dienz'. "Kebenaran perlu dibuktikan, tapi kalo emang ga terlalu penting ya udah, biarin ajah.. Negara masih butuh otak orang2 pinter buat mikir yang laen.. Hitler udah mati, mati ajah..dia juga ga pernah mikir akibat ulahnya dulu itu. Kejam dan ga punya hati!"

Atau 'Yoga' yang berpendapat berita ini adalah hoax alias berita bohong.
"Hoax ini. Kalau ada uji DNA baru gw percaya. Kalau sekedar memuji-muji dan punya ciri-ciri fisik yang sama, mungkin saja dia penggemar berat Hitler. Hitler meninggal di bunker di Jerman. Tidak mungkin keluar dari bunker dengan pasukan Amerika dan sekutunya mengepung dari arah Barat (dari arah Normandia) dan pasukan Rusia dari arah Timur (setelah operasi Barbarossa yang gagal). Dengan kapal selam? Jalur laut sudah ditutup Amerika dan sekutu, boy."

Ada juga pembaca yang menanggapi dengan lelucon. 
"Dan Hitler pun ikutan main Srimulat ... (kadang jadi Gogon, kadang jadi Pak Asmuni). Hehehe, just kidding ...," kata 'Irfan'.

Demikian juga dengan
 'tommi'. "itu hitler apa mas jojon..."

Juga
 'Stephen YC'. "Itu sebabnya Nazi banyak disukai orang Indonesia contohnya Nazi Goreng, Nazi Rames, Nazi Uduk and Nazi-nazi lainnya..."

ADA YANG PUNYA PENDAPAT LAIN?? SILAHKAN DITAMBAHKAN....

Trims

Mencari Ide utk Desain Halaman Belakang Rumah





contoh1

Peruntukan halaman belakang rumah lebih privat oleh karena itu Taman yang ada di halaman belakang rumah harus mampu menghadirkan kesejukan dan kenyamanan sebaik mungkin. Taman di halaman belakang akan menjadi tempat keluarga yang nyaman untuk berkumpul, berkomunikasi, ataupun sekedar bercanda, karena itu pembuatan desain taman di belakang haruslah secermat mungkin.

Inilah teman2, yang bikin aku bingung 2 hari libur ini, saya masih bingung apa yang pantas dibuat di halaman belakang rumah yang bisa membuat rumah menjadi lebih menarik, nyaman, dan tampak asri sehingga kita lebih betah bermain di halaman belakang tersebut.

Halaman belakng rumah kami cukup luas + 40m2 dan sepertinya banyak yang dapat kami lakukan di halaman tersebut, sudah ada ide sih sebenarnya apa yang pingin kami buat, seperti, membuat teras sehingga kami bisa duduk dan bermain disitu, kemudian menanami rumput gajah, dan membuat kolam ikan timbul. namun kadang bingung dengan desainnya.
contoh2

Senin, 07 Maret 2011

MANCHESTER UNITED DI DADAKU





MANCHESTER UNITED KEBANGGAANKU

Manchester United F.C. (biasa disingkat Man Utd, Man United atau hanya MU) adalah sebuah klub sepak bola papan atas di Inggris bahkan Dunia yang berbasis di Old Trafford, Manchester,ga ada yang nolak kan...
Dibentuk sebagai Newton Heath L&YR F.C. pada 1878 sebagai tim sepak bola depot Perusahaan Kereta Api Lancashire dan Yorkshire Railway di Newton Heath, namanya berganti menjadi Manchester United pada 1902.
Meski sejak dulu telah termasuk salah satu tim terkuat di Inggris, barulah sejak 1993 Manchester United meraih dominasi yang besar di kejuaraan domestik di bawah arahan Sir Alex Ferguson (Om jauhku) dominasi dengan skala yang tidak terlihat sejak berakhirnya era Liverpool F.C. pada pertengahan 1970-an dan awal 1980-an. Sejak bergulirnya era Premiership di tahun 1992, Manchester United adalah tim yang paling sukses dengan sebelas kali merebut trofi juara.
Meskipun sukses di kompetisi domestik, kesuksesan tersebut masih sulit diulangi di kejuaraan Eropa; mereka hanya pernah meraih juara di Liga Champions tiga kali sepanjang sejarahnya (1968, 1999, 2008).
Sejak musim 86-87, mereka telah meraih 21 trofi besar-jumlah ini merupakan yang terbanyak di antara klub-klub Liga Utama Inggris. Mereka telah memegang rekor memenangi Piala FA sebanyak 11 kali.Pada 2008, mereka menjadi klub Inggris pertama dan klub Eropa kedua yang berhasil menjadi Juara Dunia Antarklub FIFA.
Mereka juga memenangi 18 trofi juara Liga Utama Inggris (termasuk saat masih disebut Divisi Satu). Pada tahun 1968, mereka menjadi tim Inggris pertama yang berhasil memenangi Liga Champions Eropa, setelah mengalahkan S.L. Benfica4–1, dan mereka memenangi Liga Champions Eropa untuk kedua kalinya pada tahun 1999 dan sekali lagi pada tahun 2008 setelah mengalahkan Chelsea F.C. di final. Wow!!!! Luar biasa bukan...Tahun ini tibalah saatnya Manchester United memenangi liga utama dan Champions Eropa, Glory Glory Man United.

“Mari kita teriakan yel-yelnya jangan Malu-malu”

We Love United

We love United, we do,
We love United, we do,
We love United, we do,
Oh, United we love you!

Glory, Glory, Man United 

Glory, Glory, Man United 
Glory, Glory, Man United 
Glory, Glory, Man United
And the reds go marching on, on, on...

Masyarakat Besemah

MASYARAKAT BESEMAH

Masyarakat Pasemah? Barangkali tidak semua orang mengenalnya. Secara historis, suku Pasemah dulunya hanya merupakan suatu kelompok masyarakat yang bermukim di wilayah pedalaman di Sumatera Selatan (Sumsel). Suku Pasemah ini diidentikkan dengan masyarakat yang bermukim di daerah perbatasan Provinsi Sumsel saat ini dengan Provinsi Bengkulu.Secara administratif pemerintahan saat ini, wilayah Pasemah diakui meliputi daerah sekitar Kota Pagar Alam, wilayah Kecamatan Jarai, Kecamatan Tanjung Sakti, yang berbatasan dengan wilayah Bengkulu, dan daerah sekitar Kota Agung, Kabupaten Lahat (Sumsel). Menurut berbagai literatur, semua wilayah itu pada masa kolonial Belanda memang termasuk bagian dari Kewedanaan Pasemah. Sedangkan secara geografis, bisa disebut adalah mereka yang bermukim di sekitar kaki dan lembah Gunung Dempo sekarang. 

Penyebutan Pasemah itu sendiri, seperti diakui Mohammad Saman (70), budayawan dan salah seorang sesepuh di sana, berawal dari kesalahan pengucapan (lidah) orang Belanda. Padahal, pengucapan yang tepat untuk menyebut kelompok masyarakat ini sebetulnya adalah Besemah. Hanya saja, karena lidah Belanda tidak bisa mengucap awalan "Be" dari Besemah dan yang terucap hanya "Pa", maka mereka akhirnya menyebut dengan Pasemah. 
Belakangan bahkan hingga 57 tahun Indonesia merdeka, yang paling populer di tengah masyarakat justru sebutan: Pasemah. "Keseleo lidah (pengucapan) orang Belanda yang menyebut Pasemah itu, ternyata yang paling populer di luar. Padahal, bagi kami orang-orang yang masih bertahan di sini, dari dulu tetap menyebut Besemah," ungkap Saman, yang mengaku secara otodidak menguasai dan mengikuti perjalanan panjang sejarah Pasemah. 
Kata Besemah itu sendiri, konon berawal dari "kekagetan" Atong Bungsu, puyang (nenek moyang) mereka ketika melihat banyaknya ikan "Semah" di sebuah sungai yang mengalir di lembah Dempo. Menyaksikan ikan itu, tiba-tiba terucap dari mulut Atong Bungsu kalimat; Besemah..., Besemah...! yang artinya di sungai itu ada (banyak) ikan semahnya. 
***
PASEMAH adalah salah satu kelompok masyarakat tradisional yang kaya dengan nilai-nilai adat, tradisi, dan budaya yang sangat khas. Seperti yang dijelaskan Mohammad Saman, masyarakat di tanah Pasemah sedari dulu sudah mempunyai tatanan dan aturan-aturan masyarakat yang bernama "Lampik Empat, Merdike Due" yakni, perwujudan demokrasi murni yang muncul, berkembang, dan diterapkan sepenuhnya, oleh semua komponen masyarakat setempat.
 
Menurut Kamil Mahruf, Nanang Soetadji, dan Djohan Hanafiah dalam bukunya Pasemah Sindang Merdika, asal usul orang Pasemah dimulai dengan kedatangan Atong Bungsu, yaitu nenek moyang orang Pasemah Lampik Empat dari Hindia Muka untuk menetap di daerah ini. Saat kedatangan Atong Bungsu tersebut, ternyata sudah ada berdiam dua suku yang menempati daerah itu. Yakni, suku Penjalang dan suku Semidang. Untuk menjaga ketenteraman dan melindungi kepentingan mereka, pendatang dan kedua suku itu menyepakati perjanjian bersama. Intinya, di antara mereka sampai anak keturunannya, tidak akan mengganggu dalam segala hal. 
Sejauh ini memang tidak diketahui sejak kapan keberadaan suku-suku Lampik Empat di tanah Pasemah. Namun, seperti dijelaskan Kamil Mahruf, jika perkataan Pasemah yang terdapat dalam prasasti yang dibuat oleh balatentara raja Yayanasa dari Kedatuan Sriwijaya setelah penaklukan Lampung tahun 680 Masehi yaitu "Prasasti Palas Pasemah" ada hubungannya dengan tanah Pasemah, maka berarti suku-suku ini telah ada pada awal abad ke-7 M. 
Keberadaan suku Pasemah itu sendiri tampaknya memang tidak bisa lepas dari perjalanan panjang sejarah Kesultanan Palembang. Dari berbagai referensi yang dimiliki, menurut Kamil Mahruf, keterkaitan antara tanah Pasemah dan Sultan Palembang dilatarbelakangi oleh hubungan historis dan moral menyangkut ketidakmampuan untuk mengatur diri sendiri. 

Disebutkan, setelah puyang Pasemah yakni Atong Bungsu berkembang biak, keturunannya menyebar dan terbagi ke dalam empat suku. Yaitu, Sumbai Besar, Sumbai Pangkal Lurah, Sumbai Ulu Lurah, dan Sumbai Mangku Anom. Karena keempat suku itu tidak mampu mengatur kerukunan di antara mereka, maka dikirimlah utusan masing-masing suku menemui Raja Palembang untuk meminta petunjuk. Khusus dua suku sebelumnya, suku Penjalang dan Semidang tidak turut serta sesuai perjanjian terdahulu. 
Lantas, Raja Palembang memberi hadiah kepada keempat ketua suku, berupa satu lampik atau tikar untuk tempat duduk bersama. Arti pemberian itu sangat dalam, yaitu arahan agar keempat suku tersebut harus duduk bersama dalam mengatasi berbagai masalah di lingkungan mereka. Segala sesuatu yang timbul di antara kelompok itu, harus diselesaikan secara musyawarah. 
Menurut Saman, Lampik Empat (empat suku turunan Atong Bungsu) dan Merdike Due (dua suku yang sudah lebih dulu ada), merupakan potensi besar masyarakat yang ada di tanah Pasemah. Mereka menyatu, membentuk suatu kelompok masyarakat yang memang sudah sejak lama memiliki tatanan demokrasi modern. 

"Jauh sebelum Indonesia merdeka, Pasemah sudah punya sebuah tata pemerintahan yang amat demokratis. Pada saat itu yang dikedepankan adalah, kekuatan rakyat dengan dasar-dasar musyawarah dan mufakat. Lampik Empat, Merdike Due adalah, suatu tatanan demokrasi murni yang betul-betul sangat menjunjung tinggi pendapat dan aspirasi orang banyak. Itu artinya, jauh sebelum kalangan anggota parlemen dan para pemikir di Indonesia sekarang berbicara soal demokrasi, ternyata di tanah Pasemah sudah diterapkan hal itu lengkap dengan etika-etika berdemokrasi layaknya pemerintahan modern sekarang," tegas Saman penuh bangga. 
Hanya saja, pengingkaran terhadap tatanan demokrasi ternyata dari dulu sudah terbukti akan berdampak buruk. Tidak saja sekarang, sejak dari dulu pun pengingkaran demokrasi ini membawa implikasi yang tidak sehat di tengah 
masyarakat. Bahkan, bisa menjurus perpecahan dengan beragam persoalan serius. Buktinya, bisa dilihat dalam perjalanan panjang sejarah Pasemah menghadapi Belanda antara tahun 1821 sampai 1866. 
Dalam bukunya Pasemah Sindang Merdika, Kamil Mahruf dan kawan-kawan secara gamblang menggambarkan betapa kejayaan Pasemah bertahun-tahun, bisa hancur hanya gara-gara pengingkaran terhadap nilai-nilai yang ada pada Lampik Empat, Merdike Due tadi. Bahkan, sekitar tahun 1866 ketika Pasemah Sindang Merdike (julukan membanggakan bagi orang-orang Pasemah sebagai penjaga perbatasan) berakhir, disebut-sebut dipicu oleh ketidaksenangan sebagian kepala dan orang-orang berpengaruh di wilayah Lampik Empat bersama-sama orang Semidang untuk membatalkan perjanjian "Sindang Merdike" dengan Belanda. 
Berbagai ambisi dan kedengkian itu pula akhirnya yang menyebabkan runtuhnya kejayaan Lampik Empat, terhitung sejak 22 Juli 1867. Sudah bisa ditebak, begitu Lampik Empat "terkubur", lenyap sudah sebuah hakikat demokrasi dalam sekejap. Artinya, kebijakan tanpa didasarkan pada musyawarah dan mufakat ternyata telah meruntuhkan sebuah pilar demokratis yang dibangun di tanah Pasemah. 
***

MAKIN tenggelamkah "Sindang Merdike" saat ini? Menurut budayawan Pasemah, Mohammad Saman, begitu kekuatan Belanda merambah ke sini, mulailah terjadi pergeseran nilai-nilai adat, budaya, dan sistem pemerintahan di tanah Pasemah. Dampak berikut juga menyentuh berbagai peran dan fungsi lembaga-lembaga lama yang ada di masyarakat ke lembaga baru yang sesuai dengan keinginan penguasa. 
Lembaga-lembaga lama misalnya hukum adat dan tradisi lain, semakin tidak berfungsi. Bahkan, puncaknya memasuki abad XIX, berbagai lembaga tradisional di tanah Pasemah terasa mulai keropos dan pada akhirnya hilang digerogoti kolonial. Barangkali ini terkait pula dengan strategi perang yang tujuan akhirnya adalah agar kekuasaan mereka bisa langgeng. 
Era sekitar tahun 1940-an, bisa disebut sebagai titik awal pudarnya kejayaan Pasemah. Sebab, pada saat itu sistem pemerintahan marga sebagai sebuah sistem pemerintahan tradisional yang mapan di tanah Pasemah, ternyata dihapus oleh kolonial. Jabatan strategis seperti, Kepala Sumbai, Pesirah, dan lain-lain lantas dilikuidasi. 
Dilukiskan, cobaan bagi tanah Pasemah tidak semata lahir pada zaman kolonial. Setelah merdeka, bahkan di era orde baru pun tanah Pasemah juga menjadi korban. Sistem pemerintahan marga, misalnya lembaga Sumbai yang mulai bertunas kembali saat itu, sengaja dienyahkan. 
"Dengan diterapkannya Undang-Undang Pemerintahan Desa yang seragam dari Aceh sampai Irian sekitar tahun 1979, membuat pemerintahan marga di tanah Pasemah kembali terkubur. Padahal, saat itu reinkarnasi sistem pemerintahan marga sudah mulai muncul kembali. Ini jelas petaka kedua yang melanda Pasemah," tutur Saman. 

Imbalan dari pemerintah Orde Baru, untuk menghargai rasa keterpaksaan masyarakat Pasemah dalam menghapus marga dan diganti desa kala itu, hanya berupa sebuah stasiun relay televisi, satu masjid, dan memberi status kota administratif bagi Pagar Alam. Imbal beli yang teramat murah ini memang ironis. Akan tetapi, para tetua Pasemah tidak berdaya karena jika mereka menentang, jargon yang paling pas adalah akan dicap sebagai antipembangunan. 
"Ketika itu pilihan kami memang serba sulit. Daripada timbul konflik dan dianggap macam-macam, dengan rasa berat hati kami akhirnya menerima tawaran itu. Kita betul-betul sedih, karena sudah diramalkan bahwa Pasemah akan dikubur tanpa bisa bangkit kembali," ia menambahkan. 
Tentang keinginan menghidupkan kembali pemerintahan marga, diakui Saman, bukan dimaksudkan untuk sekadar menghibur diri. Karena dengan sistem pemerintahan marga, diyakini semua institusi akan memiliki basis sampai ke tingkat yang paling dasar. Ini memberi banyak keuntungan, salah satunya adalah gampang menarik masyarakat untuk berpartisipasi dalam menggerakkan roda pembangunan. Sudah dari dulu diketahui bahwa Kepala Sumbai atau Pesirah memiliki ikatan moral dan berpengaruh luas ke bawah. 

"Terus terang, kami iri dengan Sumatera Barat (Sumbar) yang saat ini sudah kembali ke pemerintahan Nagari. Jika di Sumbar sistem pemerintahan tradisional bisa dihidupkan kembali, kenapa di tanah Pasemah ini tidak dilakukan. Jadi, inilah yang perlu digugah untuk membangkitkan kembali kejayaan Pasemah dalam konteks pemerintahan modern di era otonomi daerah," ujarnya. 
Akankah "Sindang Merdike" itu akan terkubur sepanjang masa ? Jawabannya, tentu tergantung dari keinginan bersama masyarakat di tanah Pasemah itu sendiri. 
Sebab, sebagai kelompok masyarakat yang mendapat gelar kehormatan "Penjaga Perbatasan", idealnya memang harus mampu bangkit karena mereka memiliki rasa patriotisme tinggi. Sikap mental seperti itu memang sudah terbukti dan teruji dari dulu. Hanya saja, tenggelam dengan nostalgia masa lalu, jelas bukan sebuah jawaban yang tepat.... 

(disarikan dari laporan Ahmad Zulkani à àby kompas)